Jumat, 31 Mei 2019

Makalah kurikulum akidah akhlak pada SMP / MTs

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktifitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Kurikulum ibarat jalan untuk mencapai tujuan dalam melaksanakan pendidikan.Menurut Saylor dan Alexander, kurikulum adalah the total effort of the school situations, yaitu keseluruhan usaha yang dilakukan oleh lembaga atau sekolah untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakan. Dengan demikian, komponen yang ada di dalam kurikulum bukan sebatas mata pelajaran, melainkan termasuk proses belajar dan usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Demikian pentingnya kurikulum dalam pendidikan, maka dalam perjalanannya semestinya harus dikritisi, dianalisis untuk mengetahui kelebihan, kekurangan serta efektivitas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tulisan ini, kita akan mencoba melakukan bagaimana kurikulum pembelajaran Aqidah Akhlak di SMP/MTs.
2. Rumusan Masalah
A. Bagaimana pembelajaran Aqidah Akhlak pada Smp/Mts?
B. Apa dasar dan prinsip pengembangan kurikulum?
C. Apa materi dan ruang lingkup mata pelajaran akidah akhlak di madrasah Tsanawiyah?
D. Bagaimana strategi mata pelajaran akidah akhlak?
E. Apa evaluasi mata pelajaran akidah akhlak?
3. Tujuan Penulisan
A. Untuk mengetahui kurikulum Aqidah Akhlak pada Smp/Mts.
B. Untuk mengetahui dasar dan prinsip pengembangan kurikulum
C. Untuk mengetahui materi dan ruang lingkup mata pelajaran akidah akhlak di madrasah Tsanawiyah
D. Untuk mengetahui bagaimana strategi mata pelajaran akidah akhlak
E. Untuk mengetahui evaluasi mata pelajaran akidah akhlak
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pembelajaran Akidah Akhlak
A.  Pengertian akidah akhlak
Akidah akhlak terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu akidah dan akhlak.Secara etimologi, akidah berasal dari kata “aqadaya’qidu-aqdan”, berarti ikatan perjanjian, sangkutan dan kokoh. Disebut demikian, karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu. Dalam pengertian tersebut, maka akidah secara bahasa artinya adalah iman atau kepercayaan. Sedangkan, menurut terminologi akidah ialah dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber ajaran Islam yang wajib dipegang oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat.
Syaikh Abu Bakar Al-Jaziri menyatakan bahwa, akidah adalah kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas yang dapat diterima oleh akal, pendengaran dan perasaan yang diyakini oleh hati manusia dan dipujinya, dipastikan kebenarannya, ditetapkan keshalehannya dan tidak melihat ada yang menyalahinya dan bahwa itu benar serta berlaku selamanya. Seperti keyakinan manusia akan adanya Sang Pencipta, keyakinan akan ilmu kekuasaan-Nya, keyakinan manusia akan kewajiban ketaatan kepada-Nya dan menyempurnakan akhlak-yang dimaksud aqidah dalam bahasa Arab (dalam bahasa Indonesia ditulis akidah). Kata akhlak secara etimologi berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak kata khuluq atau al-khulq yang secara bahasa antara lain berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Pada hakikatnya khulq (budi pekerti) adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dari jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa melakukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbullah kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran maka ia dinamakan budi pekerti mulia (akhlak mahmudah). Sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk maka disebut sebagai budi pekerti yang tercela (akhlak madzmumah). Jadi dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran akidah akhlak adalah suatu upaya dalam menyiapkan peserta didik untuk meyakini tentang keesaan Allah Swt berdasarkan ajaran Islam dan merealisasikannya dalam wujud prilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
B.  Tujuan akidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah
Tujuan pendidikan akhlak menurut Abdul Fatah Jalal meliputi:
*Berkaitan dengan khaliq (Allah) sebagaimana dijelaskan dalam QS. Saba’: 28, QS. Adz- Zariyat: 56-58, dan QS. Al-Baqarah: 21-22.
*Berkaitan dengan sesama makhluk, sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah:122, dan QS.Al-Isra’:23. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak tanduk yang baik terhadap manusia, terhadap makhluk dan terhadap Tuhan. Manusia sempurna ialah manusia yang berakhlak mulia serta bertingkah laku dan bergaul dengan baik, inilah yang menjadi aspek penting tujuan pendidikan akhlak (akhlak pendidikan) dalam pendidikan Islam. Rumusan Ibnu Maskawih yang dikutip oleh Abuddin Nata bahwa tujuan pendidikan akhlak ialah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong seseorang secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik.
Dengan demikian jelaslah bahwa isi pendidikan akidah Islam sangat berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Pendidikan akhlak mencakup hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama dan tujuan dari akhlak ialah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna.
2. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum
Adapun dasar-dasar pengembangan kurikulum, yaitu sebagai berikut:
*Kurikulum disusun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional.
*Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan kemampuan.
*Kurikulum harus sesuai dengan cirri khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan.
*Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, potensi, dan minat peserta didik dan tuntutan pihak-pihak yang memerlukan dan berkepentingan.
*Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan sesuai dengan tuntutan lingkungan.
*Kurikulum pada semua jenjang pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.

3. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum, terdapat banyak prinsip dasar yang dapat digunakan agar kurikulum yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan dan yang diharapkan semua pihak. Prinsip-prinsip ini biasanya dibedakan dalam dua kategori yaitu prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum biasanya digunakan hampir dalam setiap pengembangan kurikulum dimanapun. Sedangkan, prinsip khusus artinya prinsip yang hanya berlaku ditempat tertentu dan situasi tertentu.
*Prinsip Umum
Sukmadinata menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip umum pengembangan kurikulum, yaitu:
a. Prinsip Relevansi
Yang dimaksud dengan relevansi pendidikan disini adalah adanya kesesuaian antara hasil pendidikan dengan tuntutan kehidupan yang ada di masyarakat. Atau dengan kata lain, bahwa pendidikan itu dianggap relevan jika hasil pendidikan mempunyai nilai fungsional bagi kehidupan. Kurikulum itu harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, baik tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ada pada masa kini maupun kebutuhan yang ada diprediksi pada masa yang akan datang.
b. Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas artinya bahwa kurikulum itu harus lentur, tidak kaku, terutama dalam pelaksanaannya. Kurikulum yang fleksibel dapat disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan, keadaan, kemampuan setempat dan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, tempat dimana kurikulum diterapkan.
c. Prinsip Kontinuitas
Prinsip Kontinuitas artinya kurikulum itu dikembangkan secara berkesinambungan.Tidak terputus-putus atau terhenti-henti.Kesinambungan ini meliputi sinambung antar kelas, maupun sinambung antar jenjang pendidikan.Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, juga antara jenjang yang lebih rendah harus menjadi dasar dan dilanjutkan pada kelas dan jenjang yang ada di atasnya.
d. Prinsip Praktis
Prinsip praktis artinya mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah.Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi.Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan.Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.Kurikulum bukan hanya harus ideal tapi juga praktis.
e. Prinsip Efektivitas
Yang dimaksud prinsip efektivitas adalah sejauh mana perencanaan kurikulum dapat sesuai dengan keinginan yang ditentukan.Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan.Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kualitas maupun kuantitas. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
*Prinsip Khusus
Prinsip khusus ini merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum secara khusus (tujuan, isi, metode dan evaluasi) satu wilayah dengan wilayah lainnya, satu jenis jenjang pendidikan dengan jenis jenjang pendidikan lainnya memiliki karakteristik yang berbeda dalam beberapa aspek, yang mana antara satu komponen dan komponen lainnya memiliki prinsip yang tidak sama.
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian, yaitu:
a. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan
b. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
c. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
d. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media atau alat pengajaran
e. Prinsip yang berkenaan dengan penilaian

4. Materi dan Ruang Lingkup  Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Mts
Mata pelajaran aqidah akhlak di tingkat Tsanawiah berdasarkan kurikulum berbasis kompetensis bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujutkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan, pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang aqidah dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkat kualitas keimanannya dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dari keterangan di atas jelas bahwa mata pelajaran Aqidah Akhlak yang diajarkan guru kepada siswa bertujuan agar siswa mampu bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan akhlak terpuji. Standar kompetensi mata pelajaran Aqidah Akhlak berisi sekumpulan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik selama mempelajari mata pelajaran aqidah akhlak di MTs. Kemampuan ini berorientasi pada kemampuan  prilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan, ketakwaan, dan beribadah kepada Allah SWT.Sehingga mampu diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun materi pelajaran Aqidah Akhlak yang diajarkan di tingkat MTsN adalah sebagai berikut :
Kelas VII:
Sifat sifat allah
Sifat sifat wajib bagi allah
Sifat sifat mustahil allah
Akhlak terpuji terhadap allah
Akhlak tercela terhadap allah
Kisah rasul
Iman kepada kitab kitab allah

Kelas VIII
Sifat-Sifat wajib Allah
Sifat-sifat mustahil Allah
Sifat jaiz Allah
Akhlak terpuji terhadap diri sendiri dan kehidupan bersama
Akhlak tercela terhadap diri sendiri
Mu'jizat Allah
Sifat-sifat rasul
Ulul 'Azmi
Akhlak Nabi Muhammad SAW Sifat dan Prilaku para sahabat/ ulama
Kelas IX
Iman kepada hari kahir
Alam ghaib
Akhlak terpuji kepada lingkungan social
Akhlak terpuji terhadap sesame
Akhlak tercela terhadap sesame
Akhlak terpuji terhadap lingkungan
Akhlak tercela terhadap lingkungan
Prilaku Nabi, sahabat, ulil amri, tokoh beriman dan berakhlak mulia.
Adapun ruang lingkup pembelajaran Aqidah Akhlak di tingkat madrasah meliputi :
Aspek aqidah terdiri atas keimana kepada sifat wajib, mustahil, zaiz Allah, keimanan kepada kitab Allah, rasul Allah, sifat-sifat dan mu'jijatnya dan hari akhir.
Aspek akhlak terpuji yang terdiri ataskhauf, taubat, tawadlu', ikhlas, bertauhid, inovatif, percaya diri, tekat yang kuat, ta'ruf, ta'awun, tafahum, tasamuh, jujur, adil, amanah, menepati janji dan bermusyawarah.
Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, munafik, namimah, dan ghihab.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa, pemerintah telah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk menjadi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Ciri-ciri pembelajaran Aqidah Akhlak dan aspek yang harus dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi :
Keimanan, yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan pemahaman  dan keyakinan tentang adanya Allah SWT sebagai sumber kehidupan
Pengamalan, mengkondisikan peserta didik untuk mempraktekkan hasil pengamalan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari
Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan prilaku yang baik sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadist.
Rasional, usaha meningkatkan kwalitas proses dan hasil pembelajaran aqidah akhlak dengan pendekatan yang memfungsikan rosio anak didik, sehingga isi dan nilai-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran.
Emosional, upaya mengugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati aqidah dan akhlak yang mulia sehingga lebih terkesan dalam jiwa anak didik.
Fungsional, menyajikan materi aqidah akhlak yang memberikan mamfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
Keteladanan, yaitu pendidikan yang menempatkan dan memerankan guru serta komponen madrasah lainnya sebagai teladan  sebagai cermin dari individu yang memiliki keimanan teguh dan berakhlak mulia.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa, materi pengajaran aqidah akhlak yang di ajarkan dengan menggunakan berbagai pendekatan  dan tujuan pencapaian sasaran. Sehingga siswa mudah memahaminya dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.Selanjutnya basis kompetensi yang dikembangkan dalam pengajaran aqidah akhlak harus menjamin pertumbuhan dan keimanan serta ketakwaan siswa kepada Allah SWT.         
5. Strategi Mata Pelajaran Akidah Akhlak
Menurut Mc Leod, secara harfiah kata strategi dapat diartikan sebagai seni (art) yaitu siasat atau rencana. Kata strategi dalam bahasa Inggris yaitu approach( pendekatan) dan kata procedure ( tahapan kegiatan). Sedangkan menurut Reber kata strategi berasal dari bahasa Yunani berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan.Sedangkan pembelajaran sendiri adalah berasal dari kata dasar “ajar” yang artinya petunjuk yang di berikan kepada orang supaya diketahui. Dari kata “ajar” ini lahirlah kata kerja “belajar” yang berarti berlatih atau berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu dan  kata “pembelajaran” berasal dari kata “belajar” yang mendapat awalan  pem- dan akhiran –an yang merupakan konflik nominal yang mempunyai arti proses. Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pendekatan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain oleh guru untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efesien.
Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.
Berikut beberapa metode dalam pembelajaran:
A. Metode Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur.
B. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan.Diskusi pada dasarnya adalah tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama lebih jelas dan teliti tentang sesuatu untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama.
C. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa.
D. Metode Hafalan
Metode hafalan merupakan metode yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Kendatipun cara belajar demikian kurang memberikan hasil, namun tetap dianggap perlu, karena dengan menghafal kita akan dapat mengingat banyak hal. Menghafal berlangsung sejalan dengan  proses mengingat.
E. Metode  Tugas Belajar dan Resitasi
Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan dirumah, sekolah, perpustakaan dan di tempat lainnya.Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok.
F. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok merngandung pengertian bahwa siswa dalam satu  kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil dan mengutamakan belajar aktif.
G. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Demonstrasi dan eksperimen merupakan metode mengajar yang  sangat efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar. Demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu.
H. Metode Simulasi
Metode Simulasi merupakan metode tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura, dalam hal ini bertujuan untuk melatih ketrampilan tertentu baik yang bersifat professional atau untuk kehidupann sehari-hari.
6. Evaluasi Mata Pelajaran Akidah Akhlak
A.  Pengertian Evaluasi
Secara bahasa evaluasi berasal dari evaluation yang berarti penilaian, akar katanya adalah value berarti nilai, dalam bahasa arab evaluasi disebut dengan al-taqdir dalam bentuk isim mufradnya al-qimah yang berarti nilai.Sedangkan secara terminology, pengertian evaluasi dirumuskan oleh beberapa tokoh dengan beragam pengertian, diantaranya Alkin menyatakan evaluasi adalah sebagai aktifitas menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan.
Menurut Oemar Hamalik evaluasi pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem belajar mengajar sebagai suatu keseluruhan. Hasil dari evaluasi akan menjadi masukan yang berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran, antara lain siswa, guru, dan orangtua siswa, dan pihak sekolah itu sendiri. Sehingga bisa menjadi koreksi atas semuanya guna pencapaian hasil belajar yang lebih baik.Demikianlah pentingnya sebuah evaluasi bagi pembelajaran, apapun pembelajaran itu termasuk pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah / Smp.
B. Bentuk-bentuk evaluasi pembelajaran akidah akhlak
*Ulangan harian
Ulangan harian di smp / mts secara periodik biasanya dilakukan setelah menyelesaikan satu atau dua kompetensi dasar.Ulangan harian biasanya tidak dibuatkan kisi-kisi, karena sudah ada rambu-rambunya didalam kompetensi dasar.
* Ulangan tengah semester
Ulangan tengah semester dilaksanakan satu kali selama satu semester, sehingga dalam satu tahun pelajaran  ( 2 vsemester ) dilakukan dua kali ulangan tengah semester. Untuk tengah semester soal dibuat oleh guru dengan membuat kisi-kisi soal yang kemudian diserahkan kepada panitia ujian.
*Ujian semester
Ujian semester dilakukan setelah melalui proses belajar mengajar selama 6 bulan sehingga dalam satu tahun dilaksanakan dua kali ujian semester.
*Ujian akhir
Ujian akhir ( ujian semester kedua ) dilakukanj setelah menyelesaikan proses belajar mengajar selama 1 tahun. Ujian akhir ini menentukan kenaikan kelas atau kelulusan menuju tingkat berikutnya.
*Penilaian non test
Penilaian non test dilakukan guru dengan memantau sikap dan perilaku peserta didik dengan mengadakan observasi.Penilaian ini tidak ada catatan khusus terhadap perkembangan atau kemajuan sikap dan perilaku peserta didik ketika atau setelah belajar. Sikap dan perilaku peserta didik yang diobservasi seperti :
Sikap dan perilaku peserta didik terhadap guru.
Sikap dan perilaku peserta didik terhadap proses pembelajaran.
Sikap dan perilaku peserta didik terhadap materi pelajaran.
Sikap dan perilaku peserta didik terhadap siswa yang lain.
Penilaian terhadap sikap siswa tersebut dilakukan untuk memberi penilaian afektif siswa selama 6 bulan atau satu semester.Karena salah satu unsur untuk melihat kualitas atau efektivitas pembelajaran adalah melalui unsur evaluasi. Yang seharusnya jika setelah dilakukan evaluasi pembelajaran akidah akhlak bisa berfungsi sebagai bahan untuk peningkatan mutu, artinya akan terjadi peningkatan hasil belajar mata pelajaran akidah akhlak pada ranah kognitif dan afektifnya.

BAB III
PENUTUP

1. Simpulan (Conclution)
Akidah akhlak consists of two words, namely aqeedah and morals. Etymologically, aqidah comes from the word "aqadaya'qidu-aqdan", meaning the agreement agreement, the connection and sturdy. according to the terminology of aqidah are the basic principles of the beliefs or beliefs of a Muslim heart that are sourced from Islamic teachings that must be held by every Muslim as a source of binding beliefs.
The etymological moral words come from Arabic, the plural form of the word khuluq or al-khulq which in language means, among other things, character, temperament, behavior, or character.  So it can be concluded that, moral akidah learning is an effort in preparing students to believe in the oneness of Allah based on Islamic teachings and realize it in the form of good behavior in everyday life.
The content of Islamic faith education is closely related to character education. Moral education includes the relationship to God and the relationship to others and the goal of morality is to create humans as high and perfect beings.
Basics of curriculum development, namely as follows:
a. The curriculum is structured to realize the national education system.
b. The curriculum at all levels of education is developed with an ability approach.
c. The curriculum must be in accordance with the characteristics of the educational unit at each level of education.
d. The curriculum at all levels of education is developed in accordance with the needs, potentials, and interests of students and the demands of those who need and are interested.
e. The curriculum at all levels of education is developed in accordance with the demands of the environment.
f. The curriculum at all levels of education includes spiritual aspects of religion, intellectuality, character of self-concept, learning skills, entrepreneurship, life skills that are blessed and dignified, healthy lifestyle, aesthetics and nationalism.
There are 2 principles of curriculum development, namely general principles and specific principles.
a. Special principles include the principles of relevance, flexibility, continuity, practicality, effectiveness,
b. General principles include those relating to the preparation of goals, content, learning experiences and assessment.
The scope of learning Aqidah Akhlak at the madrasah level includes:
1. The aspect of aqeedah consists of how to the obligatory nature, impossible, zaiz Allah, faith in the book of Allah, the messenger of Allah, the characteristics and the miracle and the last day.
2. Honorable moral aspects consisting of khauf, taubat, tawadlu ', sincere, monotheistic, innovative, confident, strong determination, ta'ruf, ta'awun, tafahum, tasamuh, honest, fair, trustworthy, keeping promises and deliberating.
3. Despicable moral aspects include kufr, shirk, hypocrites, namimah, and ghihab.
Here are some strategies in learning, namely lecture, discussion, question and answer, memorization, learning and recitation, group work, demonstration and experimentation, and simulation.
The forms of evaluation of morality learning in MTs / SMP, namely:
a. Daily tests
b. Half-year exam
c. Semester exam
d. Final testament
e. Non-test assessment

2. Saran
Hendaknya seluruh pembaca makalah ini membaca sekaligus memahami kandungan yang terdapat di makalah ini. Makalah ini dapat dijadikan pegangan awal bagi para guru maupun Mahasiswa yang bakal menjadi seorang guru.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Daud. 2000. Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Alkin, DC. 1969. Evaluation Theory Development : Evaluation comment( Nem Bury Park LA: Sage.
Dinata, Nana Syaodih Sukma. 2012.Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hamalik, 0emar. 2011.Manajemen Pengembangan Kurikulum.( Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Masy’ari, Anwar.1990. Akhlak Al-Qur’an, Surabaya: Bina Ilmu.
Nata, Abuddin.2001.Pemikiran Para Tokoh Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nurhayati, Anin. 2010. Kurikulum Inovasi, Yogyakarta: Teras.
S. Munzier, Hany Noer Aly. 2003.Watak Pendidikan Islam, Jakarta: Friska Agung Insan.
Syah, Muhibbin. 2005.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Rosdakarya.
Yunus, H. Mahmud. 1972.Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT Hidakarya Agung.

Kamis, 30 Mei 2019

Makalah Pendekatan Saintifik Akidah Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan istilah kurikulum tak lagi asing didengar. Kurikulum dapat mengalami perubahan atau pembaharuan dikarenakan kurikulum lama diangga sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman yang ada. Maka, pembaharuan kurikulum dibuat agar pendidikan dilaksakan agar tetap berkualitas dan bermutu sesuai dengan perkembangan zaman.
Indonesia mengalami beberapa kali perubahan kurikulum, namun yang terupdate daat ini adalah pembaharuan kurikulum 2006 (KTSP) menjadi kurikulum 2013. Di mana, pada pembelajaran tersebut terpusat kepada para siswa. Maka, siswa yang bergerak aktif menghidupkan suasana pembelajaran. Hal ini dipandang efektif untuk meningkatkan berbagai kompetensi dan ranah yang terdapat opada diri siswa, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Maka, untuk mencapai tujuan pembelajaran, kurikulum 2013 mempunyai metode atau cara yang dikenal dengan pendekatan saintifik.
1.2. Rumusan Masalah
A. Apa defenisi pendekatan saintifik?
B. Apa tujuan pendekatan saintifik dalam pembelajaran?
C. Bagaimana prinsip-prinsip pendekatan saintifik?
D. Bagaimana langkah-langkah pendekatan saintifik?
E. Bagaimana implementasi pendekatan saintifik terhadap pembelajaran akidah akhlak?
F.  Bagaimana metode pembelajaran dalam pendekatan saintifik pada pembelajaran akidah akhlak?
1.3. Tujuan
A. Untuk mengetahui defenisi pendekatan saintifik.
B. Untuk mengetahui tujuan pendekatan saintifik pada pembelajaran.
C. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendekatan saintifik.
D. Untuk mengetahui langkah-langkah pendekatan saintifik.
E. Untuk mengetahui implementasi pendekatan saintifik terhadap pembelaaran akidah akhlak.
F. Untuk mengetahui metode pembelajaran dalam pendekatan saintifik pada pembelajaran akidah akhlak.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Defenisi Pendekatan Saintifik
Pada awalnya, kata ‘pendekatan’ atau approach digunakan dalam sistem penerbangan, sebelum dikonsumsi pada dunia pendidikan, yang diartikan sebagai cara pilot yang ditempuh agar dapat mencapai tujuan, yaitu mendarat dilandasan dengan aman dan tepat. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian pendekatan, yaitu : 1). Proses, cara. 2). Metode untuk mencapai sesuatu. Jadi, dalam dunia pendidikan, pendekatan diartikan sebagai suatu jalan yang ditempuh untuk mewadahi pemikiran para pembelajar kepada konsep-konsep yang akan dipelajari, sehingga dapat mengintregasikan pembelajaran dengan pengetahuan yang lama kepada pengetahuan baru.
Pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa untuk menjadikan peserta didik yang aktif dengan mengkrontruksi konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan seperti : mengamati, merumuskan masalah, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data dariberbagai sumber, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan berbagai sumber yang telah ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi dengan menggunakan pendekatan ilmiah, serta informasi yang diperoleh dapat berasal dari mana saja, kapan saja, dan tidak tergantung dari informasi yang diberikan oleh guru. Maka, dalam pembelajaran kurikulum 2013 ini, diharapkan pembelajaran dapat mengarahkan peserta didik untuk mencari tahu berbagai sumber belajar melalui kegiatan observasi, analisis, dan lainnya.
2.2. Tujuan Pendekatan Saintifik pada Pembelajaran
Adapun tujuan pendekatan saintifik pada pembelajaran, yaitu :
Untuk meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berfikir  secara radikal dan logis, serta sesuai dengan riil.
Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
Terciptanya kondisi pembelajaran di mana siswa merasa bahwa belajar merupakan hal yang fundamental.
Untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
Serta, perkembangan 3 (tiga) aspek pada diri peserta didik, yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.3. Prinsip-prinsip Pendekatan Saintifik
Setiap kegiatan termasuk suatu pembelajaran akan mempunyai tujuan tertentu. Maka, untuk mencapai tujuan tersebut dengan efisien dan fleksibel, pembelajaran tersebut dilakukan dengan berbagai jalan atau pendekatan yang memiliki porinsip. Jadi, pendekatan saintifik yang dimuat dalam kurikulum 2013 menggunakan beberapa prinsip pembelajaran, seperti :
Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu.
Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar.
Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah.
Pembelajaran berbasis kompetensi.
Pembelajaran terpadu.
Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi.
Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif.
Pembelajaran yang dapat dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja.
Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard skill dan soft skill.
Pembelajaran dnegan menggunakan berbagai media dan teknologi pembelajaran.
2.4. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 menekankan pada dimensi paedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Dalam pendekatan tersebut, siswa memeroleh informasi melalui : pengamatan, bertanya, percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data, kemudian menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta. Adapun pendekatan ilmiah atau saintifik diaplikasikan secara prosedural, berikut ini :
1. Mengamati
Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran. Pada tahap ini, biasanya memerlukan waktu persiapan yang matang, tenaga dan biaya yang relatif besar, dan jika tidak terkendali dapat mengaburkan kebermaknaan pembelajaran.maka, kegiatan mengamati ini merupakan hal yang urgen dalm memenuhi rasa ingin tahu siswa. Maka, dalam proses mengamati ini, dapat dilakukan beberapa cara, yaitu :
Menentukan objek yang akan diamati.
Membuat pedoman pengamatan sesuai dengan lingkup objek yang diamati.
Menentukan secara jelas data-data apa yang diperlukan saat observasi.
Menentukan objek pengamatan.
Cara pengumpulan data untuk melakukan sebuah pengamatan.
Melakukan pencatatan terhadap hasil objek yang diamati, berupa : foto, video rekaman, dan lainnya.
2. Menanya
Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran yang terpusat pada siswa, maka siswa dituntut untuk aktif dalam susana pembelajaran. Dalam hal ini, guru harus dapat mengkontruksi siswa untuk mempertanyakan sesuatu dan dengan pertanyaan tersebut, perhatian siswa terhadap materi yang akan disampaikan akan fokus, serta menarik siswa lainnya untuk dapat mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Ada beberapa tingkatan siswa dalam mengajukan pertanyaan, dari tingkat yang paling rendah sampai secara radikal menurut Bloom, yaitu :
Pengetahuan / hapalan (seperti : apa yang dimaksud dengan, sebutkan, jelaskan, tunjukkan, menghafal, dan lainnya)
Pemahaman (seperti : kategorikan, menguraikan, mendiskusikan, menjabarkan, dan lainnya)
Penerapan/aplikasi (seperti : membiasakan, melatih, menilai, melaksanakan, memecahkan, mensimulasikan, dan lainnya)
Analisis (seperti : menganalisis, menyeleksi, menelaah, menyimpulkan, dan lainnya)
Sintesis (seperti : mengkreasikan, memadukan, merangkum, merekontruksi, menciptakan, dan lainnya)
Evaluasi (seperti : membandingkan, merinci, menafsirkan, dan lainnya).
Adapun manfaat dari menanya ini adalah :
Munculnya sifat rasa ingin tahu, perhatian, dan niat belajar siswa terhadap pembelajaran.
Mendorong dan menginspirasi siswa untuk belajar aktif dan mengembangkan pertanyaan yang diajukan.
Mendorong partisipasi siswa lainnya untuk melakukan diskusi, shingga susana belajar terasa hidup.
Adanya kerjasama antar kelompok dan saling menerima pendapat lainnya.
Mengumpulkan Informasi
Untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa, maka pendidik dapat menugaskan siswa untuk mengumpulkan informasi terkait dengan materi yang akan disampaikan. Siswa tersebut, dapat mencari berbagi informasi dari sumber manapun dalam pendekatan saintifik ini. Untuk itu, peserta didik dapat membaca buku lebih banyak terkait materi yang akan disampaikan sebagai referensinya, memperhatikan obyek yang telah diteliti, dan sumber lainnya sehingga terkumpullah menjadi sebuah data yang akurat untuk memperkuat argumentasi dan materi yang akan disampaikan.
3. Mengasosiasikan
Pada tahap ini, siswa dilatih untuk mengolah data dari hasil diskusi menjadi sebuah kesimpulan dengan mengembangkan berbagai aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Aktifitas ini disebut juga dengan aktifitas menalar,yaitu siswa dituntut untuk mampu mengolah data dan mengkaitkan anatar informasi yang satu dengan lainnya, sehingga ditarik sebuah kesimpulan yang akurat.
4. Mengkomunikasikan
Pada tahap ini, guru memperkenankan para siswa untuk dapat mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh. Kegiatan ini dilakukan dengan menuliskan atau menceritakan apa yang telah ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikannya, dan menarik kesimpulan. Maka, dengan kegiatan tersebut, siswa dapat memperkuat penguasaan terhadap materi pelajaran yang akan disajikan. Hasil dari kegiatan mengkomunikasikan ini, siswa dapat memformulasikan dan mempertanggung jawabkan pembuktian pembelajaran.
2.5. Implementasi Pendekatan Saintifik terhadap Pembelajaran Akidah Akhlak
Implementasi atau penerapan kurikulum adalah bagaimana cara membelajarkan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk menghasilkan lulusan yang memiliki seperangkat kompetensi sesuai karakteristik dan kemampuan masing-masing. Tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada para siswa, agar mereka mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga, terjadi perubahan perilaku sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar isi (SI). Dalam kurikulum 2013 ada beberapa aspek yang menjadi Kompetensi Inti (KI), yang harus dibangun pada peserta didik seperti : religius, sosial, afektif, dan kognitif. Maka, guru harus dapat mengkontruksi para siswa untuk dapat meraih keempat kompetensi tersebut dengan berbagai materi, metode, dan strategi serta media yang digunakan dalam pembelajaran.
Pembelajaran dimulai dari sapaan guru kepada para siswa, kemudian mengajak para siswa untuk berdo’a sebelum memulai pembelajaran untuk membentuk aspek religius dan afektif. Kemudian, memberikan stimulus berupa materi dalam bentuk umum, bisa berupa kisah atau menjelaskan powerpoint yang telah disiapkan sebelumnya, yakni materi tentang akhlak terpuji. Kemudian, dalam pendekatan saintifik, pembelajaran siswa dimulai dari mengamati. Maka, siswa dapat mengamati berbagai obyek mengenai perilaku terpuji baik di lingkungan sekitar, maupun di luar sekolah. Apabila, dalam diri siswa muncul pertanyaan-pertanyaan mengenaik akhlak terpuji, maka guru memberikan kesempatan siswa untuk melakukan tanya jawab serta membuka forum diskusi. Selain itu, siswa juga dapat mengeksplor berbagai informasi dari berbagai sumber, seperti : internet, referensi lainnya. Kemudian, para siswa melakukan proses penalaran dan menggabungkan berbagai informasi yang diketahui mengenai akhlak terpuji sehingga, timbullah pemahaman baru yang dimiliki oleh siswa. Kemudian, langkah terakhir para siswa diajak untuk saling mengkomunikasikan terkait materi yang sudah di ketahui kepada siswa lainnya, agar terjalin kerjasama dan menambah wawasan bagi siswa yang belum mengetahui tentang akhlak terpuji. Setelah mengetahui berbagai contoh akhlak terpuji, guru mengambil hikmah dari pembelajaran akhlak terpuji dan memberi reinforcement kepada siswa untuk dapat meneladani akhlak terpuji yang telah dipelajari.
Adapun faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan kurikulum dalam meningkatkan pembelajaran untuk mneghasilkan peserta didik yang berkompeten, sebagai berikut :
Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga pendidik dengan kurikulum dan buku teks.
Ketersediaan buku sebagai sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum.
Penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan.
Penguatan manajemen dan kebudayaan sekolah.
2.6. Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Saintifik pada Pembelajaran Akidah Akhlak
Suatu pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan mudah bila menggunakan berbagai metode yang dapat disesuaikan dengan isi materi yang akan disampaikan, agar materi tersebut dapat diterima oleh siswa dengan baik. Adapun, berbagai metode pembelajaran pada kurikulum 2013 ini adalah sebagai berikut :
1. Contextual Teaching and Learning (CTL)
CTL ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata, yang mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa merasa bahwa belajar merupakan hal yang urgen dan bermakna. Pengetahuan dan ketrampilan siswa dapat diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi pengetahuan dan ketrampilan baru.
Maka, dalam pandangan Zahorik, ada 5 (lima) elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual, yaitu :
Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating learning).
Pemerolehan pengetahuan yang sudah ada, dengan cara mempelajari secara keseluruhan dahulu, kemudian memperhatikan detailnya (acquiring knowledge).
Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
Melakukan refleksi terhadap strategi pengetahuan.
2. Inquiry (Menemukan)
Inquiry merupakan suatu teknik yang digunakan guru untuk dapat merangsang siswa agar lebih aktif mencari, serta meneliti pemecahan masalah tentang pengetahuan yang sedang dipelajari.
Adapun beberapa tahapan dalam melakukan inquiry, yaitu :
A. Observasi
B. Bertanya
C.Mengajukan dugaan
D. Pengumpulan data
E.Penyimpulan.
3. Model Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah
KEMENDIKBUD (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) menyatakan pembelajaran dengan pemecahan masalah merupakan suatu model yang menantang peserta didik untuk ‘belajar bagaimana belajar’. Bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Maka, untuk melakukan proses pembelajaran berbasis pemecahan masalah ini, siswa diberikan rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik, yang diharapkan dapat menambah ketrampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.
4. Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Model pembelajaran ini, merupakan model pembelajaran melalui kegiatan penelitian untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu proyek pembelajaran tertentu.
Adapun langkah-langkahnya adalah, sebagai berikut :
A. Prapoyek
Guru merancang deskripsi proyek, media, dan berbagai sumber belajar serta menyiapkan kondisi pembelajaran.
B. Mengidentifikasi masalah
Membuat desain dan jadwal pembuatan proyek
C.  Melaksanakan penelitian
Menyusun draft
Finalisasi da publikasi produk
D. Pasca proyek
Pada tahap ini, guru memberikan masukan dan penguatan, serta perbaikan atas produk yang telah dihasilkan siswa.
5. Metode Discovery dan Eksperimen
Metode discovery merupakan metode pembelajaran yang terjadi saat materi pembelajaran masih bersifat belum tuntas atau belum lengkap, sehingga menuntut peserta didik untuk menyingkapkan beberapa informasi yang diperlukan untuk melengkapi bahan ajar.
Sedangkan eksperimen merupakan metode percobaan dan merupakan penggabungan antara inquiry dan discovery.
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa untuk menjadikan peserta didik yang aktif dengan mengkrontruksi konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan seperti : mengamati, merumuskan masalah, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data dariberbagai sumber, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan berbagai sumber yang telah ditemukan.
Tujuan utama dalam pendekatan saintifik adalah perkembangan 3 (tiga) aspek pada diri peserta didik, yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pendekatan saintifik yang dimuat dalam kurikulum 2013 menggunakan beberapa prinsip pembelajaran, seperti :
Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu.
Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar.
Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah.
Pembelajaran berbasis kompetensi
Dalam pendekatan saintifik, siswa memeroleh informasi melalui : pengamatan, bertanya, percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data, kemudian menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta.
Implementasi atau penerapan kurikulum adalah bagaimana cara membelajarkan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk menghasilkan lulusan yang memiliki seperangkat kompetensi sesuai karakteristik dan kemampuan masing-masing. Tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada para siswa, agar mereka mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga, terjadi perubahan perilaku sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar isi (SI).
Metode atau model pembelajaran pada pendekatan saintifik, yaitu :
Contextual Teaching and Learning (CTL)
Inquiry (menemukan)
Model pembelajaran berbasis pemecahan masalah
Model pembelajaran berbasis proyek
Discovery dan eksperimen
3.2. Saran
Makalah ini, dibuat dan diperuntukkan khusus bagi calon pendidik agar dapat mengetahui berbagai informasi mengenai kurikulum 2013 dan pendekatan saintifik. Maka, sebaiknya para calon pendidik dapat memanfaatkan makalah ini sebagai salah satu sumber bacaan yang dapat menambah pemahaman terhadap pendekatan saintifik terkhsusus untuk diterapkan pada pembelajaran akidah akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus . 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulm 2013. Bandung : Refika Aditama.
Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta : Gava Media.
Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru, cet-2. Bandung : Rosdakarya.
Hilda, Lelya. 2015. Pendekatan Saintifik pada Proses Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Vol. 3, No. 1.
Inovasi Struktur Kurikulum Penunjang Pendidikan Masa Depan. Jakarta : Prestasi Pustakarya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Diklat Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013, Konsep Pendekatan Saintifik.
Mulyasa, H.E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Poerwati, Loeloek Endah dan Sofan Amri. 2013. Panduan Memahami Kurikulum 2013: Sebuah Struktur Kurikulum Penunjang Pendidikan Masa Depan. Jakarta : Prestasi Pustakarya.
Sufairoh. 2016. Pendekatan Saintifik dan Model Pembelajaran K-13, Jurnal Pendidikan Profesional, Vol. 5 No. 3.
Suseno, Hadi dan Trianto Ibnu Badar at-Taubany. 2017.  Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di Madrasah. Depok : Kencana.
Trianto. 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktifivistik. Jakarta : Bumi aksara.

CJR 2 STRATEGI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK

CRITICAL JOURNAL REVIEW (CJR)
DISUSUN untuk MEMENUHI TUGAS dari MATA KULIAH “STRATEGI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK”

DISUSUN OLEH:
NAMA : PUTRI NUR MEYLIANI AS
NIM :  0301171310
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) – 4 (EMPAT)
SEMESTER : IV (EMPAT)
DOSEN PENGAMPUH : Dr. H. MARDIANTO, M.Pd.




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA 2018/2019


 KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah swt, yang senantiasa memberikan nikmat, taufik dan hidayah-Nya  untuk dapat menyelesaikan critical journal review (CJR) pada mata kuliah “Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak” sebagai salah satu syarat terpenuhinya tugas dari mata kuliah tersebut. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, yang diharapkan syafa’atnya di yaumul hisab kelak.
Ucapan terima kasih pereview kepada Bapak Dr. H. Mardianto, M.Pd.yang telah bersedia memberikan tugas ini kepada saya selaku pereview. Karena, dengan tugas tersebut memberikan kontribusi pemikiran dan semangat yang besar untuk dapat menyelesaikan critical journal review (CJR) ini dengan baik. 
Dengan selesainya critical journal review ini, semoga dapat membawa manfaat bagi para pembaca terkhusus calon pendidik yang akan menggodok seluruh anak bangsa demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan sejahtera. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam mengkritik jurnal dan memberi saran tersebut. 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 
Medan, 11 Mei 2019
Pereview,


Putri Nur Meyliani As




 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........i
DAFTAR ISI ................ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang............ 1
RINGKASAN JURNAL
A.  Identitas Jurnal.......... 2
B. Ringkasan...... 2
Pendahuluan..... 2
Metodologi Penelitian.... 2
Pembahasan......... 3
Kesimpulan....... 6
PEMBAHASAN..........7
KESIMPULAN dan SARAN....... 9


A.  PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Jurnal yang dipilih penulis adalah mengenai strategi pembelajaran, di mana dalam mendidik ada hal-hal yang harus diperhatikan agar tercapai tujuan dari pembelajaran. Agar tujuan tersebut tercapai, maka seorang guru atau dosen dapat menggunakan strategi dalam mengajar. Untuk itu, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dengan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Jurnal ini, sangat cocok untuk diasumsi para mahasiswa khususnya fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan sebagai bekal untuk mengajar siswa di dunia pendidikan yang nyata. Maka, setelah mengetahui strategi pembelajaran, para mahasiswa akan memahami strategi apa yang cocok diterapkan sesuai dengan materi yang diajarkan. Untuk itu, perlu dilakukan analisa mendalam terhadap pengembangan strategi pembelajaran di perguruan tinggi dalam upaya penguatan pembelajaran, sehingga kualitas dan mutu lulusan sesuai dengan tuntutan zaman.
Maka, tugas pendidik kedepan adalah berinovasi dalam menggunakan strategi pembelajaran yang akan digunakan dengan cara menggunakan media pembelajaran yang merupakan alat yang digunakan dalam menjalankan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan berjalan dengan efektif.


B. RINGKASAN JURNAL
1. Identitas Jurnal
Judul : Penerapan Strategi Pembelajaran Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe
Penulis : Zulfikar Ali Buto
Lembaga Penulis : STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Lembaga Penerbit Jurnal : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan
2. Ringkasan
a. Pendahuluan
Hakikat proses pembelajaran bagi mahasiswa merupakan proses di mana seorang mahasiswa dapat mengubah dirinya ke arah kedewasaan, baik berfikir, bertindak, memberikan inspirasi, bertanya, dan bertutur sapa. Proses pembelajaran diarahkan untuk membimbing mahasiswa ke arah kesempurnaan iman dan amal shaleh, demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.  Di sisi lain, proses pembelajaran hendaknya diposisikan sebagai proses pembelajaran yang mampu memberikan kerangka berfikir, sikap, dan perilaku yang relevan dan mengarah pada kebutuhan dalam konteks kehidupan kini atau masa yang serba modern ini.
Sebagai mahasiswa tarbiyah yang notabene akan dipersiapkan untuk menjadi calon guru, mereka dibekali dengan beberapa pengalaman berfikir, berkarya, dan berketrampilan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan. Pengalaman tersebut dapat diperoleh pula melalui mata kuliah wajib, seperti strategi pembelajaran, inovasi pendidikan, dan lainnya. Artinya, dalam pemberian makna terhadap hal-hal tersebut, mahasiswa bukan hanya belajar tentang teori, tetapi juga mendalami, menganalisis, mengeksplorasi, serta melakukan kegiatan praktikum dalam proses mengajar sebagai calon guru. Maka, jangan sampai mata kuliah strategi pembelajaran tidak dilaksanakan dengan strategi yang benar. Untuk itu, perlu dilakukan analisa mendalam terhadap pengembangan strategi pembelajaran di perguruan tinggi dalam upaya penguatan pembelajaran, sehingga kualitas dan mutu lulusan sesuai dengan tuntutan zaman.
b. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian naturalistik, karena penelitian ini dilakukan pada kondisi yang alamiah, di mana peneliti adalah  instrumen kunci dalam pengumpulan data. Proses pencarian dan penyusunan secara sistimatis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian data ke dalam klasifikasi sesuai dengan kebutuhan, dengan memilah data yang penting dan yang tidak, lalu dipelajari dan mengambil kesimpulan.
c. Pembahasan
Pengertian Strategi Pembelajaran
Pengertian strategi pembelajaran secara bahasa, strategi berasal dari bahasa Inggris strategic yang berarti secara strategis, menurut siasat, dan rencana.  Secara istilah didefinisikan bahwa strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal, artinya perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berikut beberapa jenis strategi yang dibagi berdasarkan titik penekanannya berdasarkan atas tiga yaitu: 
1. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada guru;
2. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada peserta didik;
3. Strategi belajar mengajar yang berpusat pada materi pengajaran.
b. Proses Pembelajaran Perguruan Tinggi Islam Malikussaleh
Berikut hasil observasi serta wawancara yang ditemukan peneliti di lapangan:
Strategi Pembelajaran pada Prodi Pendidikan Agama Islam
Melalui observasi yang dilakukan selama penelitian ini dilakukan, banyak hal yang dapat diperoleh, untuk menjelaskan strategi pembelajaran yang dilaksanakan pada Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam terlebih dahulu kita gambarkan urutan kegiatan pembelajaran yang mayoritas dilakukan oleh dosen prodi Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
Dosen memulai pembelajaran dengan melakukan beberapa kegiatan pendahuluan, seperti : membuka pembelajaran dengan muqaddimah, menanyakan kabar mahasiswa, kemudian menyerahkan forum diskusi kepada pemakalah yang bertugas.
 Dosen melakukan beberapa kegiatan inti pembelajaran, seperti : pada pertemuan awal mayoritas dosen melakukan kontrak belajar yang disepakati dengan mahasiswa, Kegiatan lain yang dilakukan pada pertemuan pertama adalah memberikan pengantar mata kuliah baik melalui sejarahnya, pentingnya, dan pokok-pokok pembahasan yang akan dibahas selama 12 sampai 16 kali pertemuan. Setelah pengantar mata kuliah diberikan, berikutnya yang dilakukan adalah membagi kelompok mahasiswa sesuai dengan kebutuhan
Dosen mengakhiri pembelajaran dengan beberapa kegiatan penutup, seperti : Menyempurnakan hal yang belum sempurna, melengkapi hal yang belum lengkap, menambah hal yang masih kurang, mengadakan hal yang belum ada. Selanjutnya mengarahkan agar makalah berikutnya tampil lebih baik lagi. Kegiatan selanjutnya adalah menutup proses pembelajaran dengan memberi salam.
Pengembangan Strategi Pembelajaran di Perguruan Tinggi Islam Malikussaleh
Mata kuliah Strategi Pembelajaran dosen lebih cenderung menggunakan strategi Pembelajaran Kooperatif (Strategi Cooperative Learning). Pembelajaran diarahkan menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab, metode penugasan, dan, metode diskusi. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan proses langkah-langkah pembelajaran pada tingkat perguruan tinggi :
Karaktesitik bidang studi (materi yang akan diberikan)
Karakteristik diartikan ciri-ciri umum, mata kuliah atau bidang studi, mata kuliah memiliki karakteristik tersendiri dalam menentukan langkah apa dan bagaimana cara menyampaikan materi tersebut. Ada empat karakteristik mata kuliah secara umum berupa konsep, fakta, prinsip, dan prosedur.  Keempat karakateristik mata kuliah di atas menggambarkan bagi seorang dosen dan mahasiswanya, apa dan bagaimana proses pembelajaran yang harus dilakukan dengan karakteristik ini pula  dosen dan mahasiswa dapat merencanakan proses pembelajaran mata kuliah yang akan dipelajarinya.
Titik penekanan kegiatan proses pembelajaran
Administrasi dosen adalah satunya adalah arsip mengajar yang harus dipersiapkan sebelum mengajar atau jauh-jauh hari sebelum aktivitas pembelajaran. kondisi ini barangkali menjadi perhatian bersama bagi praktisi pendidikan, persiapan mengajar berarti sang dosen sudah siap terhadap apa, bagaimana dan mengapa proses pembelajaran tersebut dilakukan.
Peranan administrasi dosen dalam proses pembelajaran akan menggambarkan dirinya sebagai apa dalam proses pembelajaran. Demikian halnya dengan mahasiswa akan merasa posisinya sebagai seorang mahasiswa yang memiliki hak dan kewajiban dalam proses pembelajaran.  Posisi dosen sebagai motivator, fasilitator, inspirator, dan evaluator menjadi tempat sasaran, demikian halnya dengan mahasiswa yang sesekali menjadi subjek dan sesekali menjadi objek pembelajaran dapat merasakan secara langsung aktivitas pembelajaran tersebut. Sebagai motivator dosen dapat meberikan dorongan dari belakang, memberikan arahan yang semestinya harus dilakukan serta membimbing mahasiswa kepada hal yang seharusnya ada. Penekanan-penekanan pembelajaran dosen sangat diharapkan mampu mengevaluasi konsep, fakta, prinsip, dan prosedur kegiatan pembelajaran. 
Menentukan strategi pembelajaran
Menentukan strategi pembelajaran bagi dosen bukanlah hal yang sulit dan bukan pula hal yang mudah, beberapa pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang dosen dalam memilih atau menentukan strategi apa yang akan digunakan dalam sebuah proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran (materi ajar) yang akan dicapai;
2. Perubahan tiga ranah pendidikan (kognitif, afektif, dan psikomotorik);
 3. Kreativitas dosen pengajar (motivator, inspirator, fasilitator, dan evaluator);
4. Karakteristik mahasiswa (latar belakang pendidikan);
5. Ketersedian sarana dan prasarana pembelajaran.
Menentukan media pembelajaran
Media pembelajaran adalah alat perantara yang digunakan oleh dosen untuk mempermudah penyampaian materi perkuliahan. Berikut bebepara pertimbangan yang dilakukan dalam memilih media pembelajaran :
1. Kesesuaian tujuan pembelajaran
2. Substansi materi dengan media pembelajaran
3. Kreatifitas dan objektifitas media pembelajaran
4. Pengalaman dosen pengajar dan mahasiswa
5. Efektifitas dan efisiensi media pembelajaran
6. Ketersedian media pembelajaran
Pertimbangan di atas menjadi moment penting bagi seorang dosen untuk menentukan media apa yang dipakai dalam efektifitas pembelajaran.
Kesimpulan
Strategi yang digunakan  seperti Strategi Pembelajaran Ekspositori, dan Strategi Pembelajaran Inquiri dengan pendekatan individual antara mahasiswa. Mata kuliah Strategi Pembelajaran dosen lebih cenderung menggunakan strategi Pembelajaran Kooperatif (Strategi Cooperative Learning). Pembelajaran diarahkan menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab, metode penugasan, dan, metode diskusi. Secara garis besar proses pembelajaran berjalan dengan baik akan tetapi pengetahuan mahasiswa tentang strategi pembelajaran mengalami kesulitan karena strategi terkesan terpaku pada beberapa strategi saja. Pengalaman ini terjadi dikarenakan titik penekanan mereka memilih materi untuk diajarkan dengan bukan pada titik penggunaan strategi tertentu untuk diajarkan sehingga menjadi pengalaman mereka.


C. PEMBAHASAN
Relevansi antara topik jurnal dengan kepenulisan jurnal sangat berhubungan erat. Di mana, topik jurnal berisi tentang strategi pembelajaran yang diterapkan pada mahasiswa prodi PAI di STAIN MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE. Penulis memaparkan keadaan pembelajaran yang dilakukan oleh dosen kepada mahasiswa, terkhusus strategi dosen dalam mengajar mahasiswa. Di STAIN tersebut, mayoritas dosen mengajar dengan menggunakan strategi CTL (Contextual Teaching and Learning).
Pokok-pokok argumentasi penulis dalam pendahuluan, seperti :
Sebagai mahasiswa tarbiyah yang notabene akan dipersiapkan untuk menjadi calon guru, mereka dibekali dengan beberapa pengalaman berfikir, berkarya, dan berketrampilan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan. Maka, diperlukan pengalaman yang realistis dengan cara merilis mata kuliah strategi pembelajaran, inovasi, dan lainnya. Hal ini, dilakukan agar mahasiswa bukan hanya mengetahui secara teori terkait hal tersebut, namun juga dapat mendalami, mempraktikkan, menganilisis, bagaimana cara mengajar yang baik. Untuk itu, maka, tidak hanya memberikan mata kuliah strategi pembelajaran, namun juga dapat menerapkan strategi pembelajaran yang benar.
Metodologi penelitian dan relevansinya. Dalam hal ini, penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Proses pencarian dan penyusunan secara sistimatis data diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Selanjutnya, dilakukan pengorganisasian data ke dalam klasifikasi sesuai dengan kebutuhan, dengan memilah data yang penting dan yang tidak, lalu dipelajari dan mengambil kesimpulan. Dalam hal ini, penulis telah menggambarkan situasi yang terjadi di STAIN MALIKUSSALEH dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen dengan mahasiswa.
Kerangka berfikir penulis pada bagian pembahasan. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Penulis juga memaparkan tentang proses mengajar yang dilakukan oleh dosen PAI di STAIN tersebut. Kemudian, penulis juga memaparkan pengembangan strategi pembelajaran di STAIN MALIKUSSALEH.
 Kesimpulan dan saran serta implikasinya pada penelitian berikutnya. Penulis tidak memaparkan saran dalam jurnalnya. Untuk kesimpulan dan implikasinya, secara garis besar proses pembelajaran berjalan dengan baik akan tetapi, pengetahuan mahasiswa tentang strategi pembelajaran mengalami kesulitan karena strategi terkesan terpaku pada beberapa strategi saja. Pengalaman ini terjadi dikarenakan titik penekanan mereka memilih materi untuk diajarkan dengan bukan pada titik penggunaan strategi tertentu untuk diajarkan sehingga menjadi pengalaman mereka.
Kritik dan saran pereview jurnal terhadap penulisan jurnal, adalah sebagai berikut :
Tidak dipaparkannya teori kajian sebagai bahan kajian dari pembahasan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis. Sebaiknya, teori kajian terdapat dalam jurnal sehingga, pembaca jurnal dapat memahami ke arah mana jurnal yang dibacanya. Contoh, pengertian strategi pembelajaran, macam-macam strategi pembalajaran.
Dalam menulis jurnal, sebaiknya penulis memaparkan kesimpulan atau pendapat penulis terhadap penelitian yang dilakukan di bagian pembahasan agar, jurnal yang ditulis lebih bersifat kritis.

D. KESIMPULAN dan SARAN
Strategi pembelajaran diartikan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dengan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Maka, guru yang cerdas akan mampu menciptakan siswa yang cerdas pula. Artinya, guru harus dapat mengaplikasikan strategi pembelajaran ini sesuai dengan materi yang akan diajarkan, agar pembelajaran menjadi efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Selain itu, guru juga dapat memanfaatkan media pembelajaran sebagai penunjang pembelajaran dalam melaksanakan strategi pembelajaran. Maka, dalam menjalankan hal tersebut, guru hendaknya memiliki keterampilan dalam mengelola kelas dan mengadakan pembelajaran yang PAIKEM GEMBROT, dapat dipastikan seluruh siswa akan senang dalam mengikuti pembelajaran, ketika sudah senang maka pembelajaran dapat dengan mudah diserap oleh anak didik.

CJR 1 STRATEGI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK


CRITICAL JOURNAL REVIEW (CJR) 2 (DUA)
DISUSUN untuk MEMENUHI TUGAS dari MATA KULIAH “STRATEGI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK”


DISUSUN OLEH:

NAMA : PUTRI NUR MEYLIANI AS
NIM :  0301171310
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) – 4 (EMPAT)
SEMESTER : IV (EMPAT)
DOSEN PENGAMPUH : Dr. H. MARDIANTO, M.Pd.





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA 2018/2019


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah swt, yang senantiasa memberikan nikmat, taufik dan hidayah-Nya  untuk dapat menyelesaikan critical journal review (CJR) pada mata kuliah “Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak” sebagai salah satu syarat terpenuhinya tugas dari mata kuliah tersebut. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, yang diharapkan syafa’atnya di yaumul hisab kelak.
Ucapan terima kasih pereview kepada Bapak Dr. H. Mardianto, M.Pd.yang telah bersedia memberikan tugas ini kepada saya selaku pereview. Karena, dengan tugas tersebut memberikan kontribusi pemikiran dan semangat yang besar untuk dapat menyelesaikan critical journal review (CJR) ini dengan baik.
Dengan selesainya critical journal review ini, semoga dapat membawa manfaat bagi para pembaca terkhusus calon pendidik yang akan menggodok seluruh anak bangsa demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan sejahtera. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam mengkritik jurnal dan memberi saran tersebut.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Medan, 11 Mei 2019
Pereview,


Putri Nur Meyliani As




 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................i
DAFTAR ISI........... ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ......1
RINGKASAN JURNAL
A.  Identitas Jurnal .....2
B. Ringkasan... 2
Pendahuluan .....................2
Kajian Teori ...............3
Metodologi Penelitian.......  3
Pembahasan ............4
Kesimpulan ...4
PEMBAHASAN ...5
KESIMPULAN dan SARAN..... 7










A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Jurnal yang dipilih penulis adalah mengenai strategi pembelajaran aktif, di mana dalam mendidik ada hal-hal yang harus diperhatikan agar tercapai tujuan dari pembelajaran. Agar tujuan tersebut tercapai, maka seorang guru atau dosen dapat menggunakan strategi dalam mengajar. Untuk itu, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dengan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik yang berupa pendekatan ilmiah. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah seperti : mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Maka, guru harus mempunyai strategi dalam mengajarkan pembelajaran yang akan diajarkannya. Salah satu strateginya adalah strategi pembelajaran aktif. Strategi ini mengontruksikan pemikiran siswa untuk dapat aktif baik, menanya, menanggapi, dan lain sebagainya. Karena, pada kurikulum ini pembelajaran terpusat kepada siswa. Hal ini dilakukan, agar siswa dapat berfikir secara kritis, dan mendalam.Maka, jurnal ini sangat cocok untuk dikonsumsi bagi para calon guru terkhusus mahasiswa tarbiyah. Karena, mereka lah yang akan menggantikan posisi para gurusaat ini.














B.  RINGKASAN JURNAL
1.Identitas Jurnal
Judul : Penerapan Pembelajaran Active Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Madrasah
Penulis : Hasan Baharun
Lembaga Penulis : Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo
Lembaga Penerbit Jurnal : -
2. Ringkasan
Pendahuluan
Dalam era pembelajaran konstruktivistik, keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran merupakan kunci utama belajar. Keaktifan dalam belajar sering menjadi prediktor yang baik bagi hasil belajar. Akan tetapi kondisi berbeda ketika peneliti mengajar Aqidah Akhlaq di kelas XI IPS MA. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh peneliti, diantaranya adalah terdapat beberapa siswa yang mengantuk atau mengobrol di kelas ketika pembelajaran berlangsung, kurang konsentrasinya siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru, rasa ingin tahu siswa belum terbangun, siswa tidak berani berargumentasi atau bersifat pasif di kelas, ditambah lagi dengan banyaknya siswa yang belum memenuhi target pencapaian kriteria ketuntasan minimal (KKM).
 Hal tersebut juga diperparah dengan sikap siswa yang menomer duakan pelajaran rumpun agama tersebut, mengingat pelajaran Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Darul Lughah Wal Karomah tidak di UN kan, sehingga mereka belajar “apa adanya” dan “semaunya” yang berimplikasi pada rendahnya motivasi belajar siswa. Padahal, motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar murid. Salah satu cara yang dilakukan peneliti untuk mengatasi problematika pembelajaran Aqidah Akhlaq pada siswa kelas XI IPS di Madrasah Aliyah Darul Lughah Wal Karomah adalah penerapan pendekatan active learning, dikarenakan ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika lingkungannya diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anakanak “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahui”nya.



C. KAJIAN TEORI
1. Hakikat Active Learning
Pembelajaran aktif merupakan strategi pembelajaran yang lebih banyak melibatkan peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan kompetensinya. Selain itu, belajar aktif juga memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan analisis dan sintesis serta mampu merumuskan nilai-nilai baru yang diambil dari hasil analisis mereka sendiri.
Secara harfiah active learning maknanya adalah belajar aktif. Kebanyakan praktisi dan pengamat menyebutnya sebagai strategi learning by doing. Pendekatannya, memandang belajar sebagai proses membangun pemahaman lewat pengalaman dan informasi. Dengan pendekatan ini, persepsi, pengetahuan dan perasaan peserta didik yang unik ikut mempengaruhi proses pembelajaran.
2. Prinsip-prinsip Active Learning
Prinsip-prinsip active learning adalah tingkah laku yang mendasar yang selalu nampak dan menggambarkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar baik keterlibatan mental, intelektual maupun emosional yang dalam banyak hal dapat diisyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktifan fisik.
3. Hasil Belajar Siswa
Untuk menentukan berhasil atau gagalnya siswa menempuh pendidikan dalam suatu lembaga, secara umum digunakan tolak ukur hasil belajar untuk mengetahui kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya. hasil belajar dalam konteks pembahasan ini sama artinya dengan prestasi belajar. Prestasi belajar memiliki posisi penting dalam pendidikan, karena sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran, sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi para pelaku pendidikan.
4. Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian diskriptif, sebab menggambarkan bagaimana pembelajaran active learning diterapkan dan bagaimana hasil dari penerapan pendekatan active learning tersebut.
5. Pembahasan
Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan; kegiatan dan pelaksanaan; refleksi; analisis data minat, perhatian, partisipatif; dan revisi.
Pada tahap perencanaan ini, peneliti merancang kegiatan pembelajaran, serta alat untuk mengukur evaluasi.
Pada tahap kegiatan dan pelaksanaan, pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui keberhasln siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan.
Refleksi, tahap ini digunakan untuk membangkitkan motivasi para siswa serta menjelaskan kebermaknaan pembelajaran.
Analisis data minat, perhatian, dan partisipatif, tahap ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik bersemangat untuk mengikuti pembelajaran.
Revisi, dilakukan untuk melihat berbagai kekuarang yang dilakukan kemudia langkah apa yang cocok digunakan sebagai perbaikan.
6. Kesimpulan
Pendekatan active learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS di MA. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo. Hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus pertama diperoleh hasil sebanyak 22 anak (66,7%) memiliki minat, perhatian dan partisipasi yang baik, 4 anak (12,1 %) memiliki minat, perhatian dan partisipasi yang cukup, dan 7 anak (21, 2% ) memiliki minat, perhatian dan partisipasi kurang. Dan pada siklus ke dua diperoleh hasil sebanyak 30 anak (90,9%) memiliki minat, perhatian dan partisipasi yang baik, 1 anak (3,03 %) memiliki minat, perhatian dan partisipasi yang cukup, dan 2 anak (6, 06 % ) memiliki minat, perhatian dan partisipasi kurang.




 D. PEMBAHASAN
Relevansi antara topik jurnal dengan kepenulisan jurnal sangat berhubungan erat. Karena, penulis dalam penelitiannya sangat berusaha untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna. Memberikan pemahaman tersebut lewat strategi active learning, sehingga mau tidak mau siswa harus dapat mengontruksi dirinya agar mampu dalam mengikuti pembelajaran.
Pokok-pokok argumentasi penulis dalam pendahuluan, seperti :
Peneliti mengajar Aqidah Akhlaq di kelas XI IPS MA. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo mengalami beberapa kendala, diantaranya adalah terdapat beberapa siswa yang mengantuk atau mengobrol di kelas ketika pembelajaran berlangsung, kurang konsentrasinya siswa terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru, rasa ingin tahu siswa belum terbangun, siswa tidak berani berargumentasi atau bersifat pasif di kelas, ditambah lagi dengan banyaknya siswa yang belum memenuhi target pencapaian kriteria ketuntasan minimal (KKM). Maka, salah satu cara yang dilakukan peneliti untuk mengatasi problematika pembelajaran tersebut adalah penerapan pendekatan active learning, dikarenakan ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika lingkungannya diciptakan alamiah.
Pemilihan serta cakupan kajian teori, jurnal ini memuat kajian teori seperti hakikat active learning, prinsip-prinsip active learning, dan hasil belajar.
Metodologi penelitian dan relevansinya. Dalam hal ini, penulis menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.
Kerangka berfikir penulis pada bagian pembahasan. Pada bagian pembahasan, penulis mencoba memecahkan persoalan yang dihadapi seperti siswa ribut, dan lain sebagainya dengan cara menerapkan strategi active learning melalui 2 siklus untuk membandingkan hasil yang telah dicapai oleh peneliti dalam menerapkan strategi active learning.
Kesimpulan dan saran serta implikasinya pada penelitian berikutnya. Penulis tidak memaparkan saran dalam jurnalnya. Untuk kesimpulan dan implikasinya pendekatan active learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS di MA. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo. Hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Maka, strategi ini dapat direkomendasi dan diterapkan untuk meningkatkan prestasi peserta didik.
Kritik dan saran pereview jurnal terhadap penulisan jurnal, adalah sebagai berikut :
Sebaiknya, jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian kuantitatif yang berupa data angka atau grafik, untuk melihat seberapa berpengaruhnya strategi pembelajaran aktif ini bagi siswa terkhusus siswa siswa kelas XI IPS di MA. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo.
Kajian teori terlalu rinci, maka perlu ditambah seperti materi tentang langkah-langkah dilakukannya strategi pembelajaran aktif dan karakteristiknya. Sehingga, pembaca dapa mengetahui secara detail tentang strategi pembelajaran aktif ini.















E.  KESIMPULAN dan SARAN
Strategi pembelajaran diartikan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dengan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran aktif ini, siswa dituntut untuk dapat mengontruksi pemikirannya agar dapat menimbulkan pertanyaan yang kemudian diajukan kepada guru atau teman lainnya agar dapat didiskusikan. Dengan demikan, pembelajaran akan lebih fleksibel karena, guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Serta, pembelajaran ini berpusat kepada siswa yang dapat menemukan pengetahuan yang baru.
Maka, saran saya selaku pereview adalah letakkannya strategi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Misalkan, tujuan pembelajarannya adalah menciptakan suasana belajar yang kondusif serta hidup, maka gunakanlah strategi pembelajaran aktif. Selain itu, guru juga dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai pendukung dari pembelajaran.

Rabu, 29 Mei 2019

CBR 2 STRATEGI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK

CRITICAL BOOK REPORT (CBR) 2 (DUA)
1. IDENTITAS DIRI
Nama : Putri Nur Meyliani As
NIM : 0301171310
Prodi : PAI-4/IV
Dosen Pengampuh : Dr. H. Mardianto, M.Pd.
2. IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Strategi Pembelajaran
Penulis : Abdul Majid, M.Pd.
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya
Tahun Terbit : 2017
3. ISI BUKU
A.  Pengertian Strategi Pembelajaran
1). Makna strategi
Strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Startegi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan.
2). Makna pembelajaran
Istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melauli berbagai upaya dan berbagai strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan.
3). Makna strategi pembelajaran
Startegi pembelajaran dapat diartikan sebagai prencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Maka, tujuan dari strategi pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.
B. Jenis-jenis Strategi Pembelajaran
Berikut klasifikasi strategi pembelajaran dalam artikel Saskatchewan Educational (1991), yaitu :
1).Strategi pembelajaran langsung (direct instruction)
Strategi ini merupakan strategi yang berpusat pada guru (guru merupakan sumber belajar). Strategi ini akan efektif digunakan bila memperluas informasi, dan mengembangkan ketrampilan.
2). Strategi pembelajaran tidak langsung (indirect instruction)
Dalam startegi ini, peran guru beralih menjadi fasilitator, dan pendukung pembelajaran. Artinya, guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk terliat dan jika memungkinkan siswa dapat memberikan umpan balik untuk melakukan proses inkuiri dalam pembelajaran.
3). Strategi pembelajaran interaktif (interactive learning)
Staretgi ini merujuk pada bentuk diskusi dan saling berbagi informasi antar peserta didik. Hal ini menunjukkan sikap sosial pada diri peserta didik, dan menambah wawasan antar peserta didik.
4). Strategi pembelajaran melalui pengalaman (experiential learning)
Penekanan strategi pembelajaran ini adalah pada proses belajar bukan hasil belajar. Strategi ini cocok digunakan oleh guru pada pembelajaran di luar kelas.
5). Strategi pembelajaran mandiri
Belajar mandiri adalah strategi yang digunakan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri siswa.
Istilah Terkait dalam Strategi Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran.
C. Metode pembelajaran
Metode pengajaran merupakan salah satu unsur dari strategi pembelajaran. Maka, metode pembelajaran penyajian efektif dari muatan suatu mata pelajaran sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan baik oleh peserta didik.
D. Teknik pembelajaran
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
E. Taktik pembelajaran
Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
F. Model pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajarandi kelas, atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya kurikulum, buku, komputer, dan lainnya.
Sasaran Kegiatan Pembelajaran
Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan tersebut bertahap dan berjenjang, mulai dari yang sangat operasional dan konkrit. Persepsi guru atau anak didik mengenai sasaran akhir kegiatan belajar mengajar akan mempengaruhi sasaran kegiatan. Sasaran itu harus diterjemahkan ke dalam ciri-ciri perilaku kepribadian yang didambakan.
G. Tahapan Kegiatan Pembelajaran
Secara umum, ada 3 pokok tahapan pembelajaran, yakni:
1).Tahap praintruksional (tahap yang ditempuh guru saat memulai pembelajaran);
2).Tahap intruksional (tahap pengajaran atau inti);
3).Tahap penilaian dan tindak lanjut (tahap evaluasi).

4. KELEBIHAN BUKU
Adapun kelebihan dari buku tersebut, adalah :
A. Identitas buku lengkap, seperti : judul, penerbit, tahun terbit,  dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa buku tersebut berkualitas.
B. Pada isi buku terdapat peta konsep dan tabel yang digunakan untuk mempermudah para pembaca memahami isi buku tersebut, contoh tersebut terdapat pada halaman 6, 10, dan lainnya dalam buku.
C. Penulisan buku sudah sesuai dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia), misalnya penggunakan bahasa asing ditulis dengan huruf miring, seperti : interactive learning.
D. Mengutip pendapat para ahli disertai dengan body note sebagai referensi, seperti : Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008.
5. KEKURANGAN BUKU
Adapun kelemahan dari buku tersebut, adalah :
A. Tidak terdapat biografi penulis, sehingga para pembaca tidak mengetahui siapa yang memberikan ilmu dalam buku terebut secara rinci, agar buku tersebut tidak diragukan.
B. Pada sub judul “Istilah terkait dalam strategi pembelajaran”, kalimat stretegi pembelajaran dijadikan sebagai salah satu poin. Padahal, sub judul meminta istilah lainnya, tetapi penulis mengulang kembali kalimat “strategi pembelajaran” sebagai salah satu istilahnya. Hal tersebut terdapat pada halaman 12.
6. KONTRIBUSI untuk GURU PAI
Buku ini memberikan banyak sumbangan keilmuan cara mengajar yang tepat bagi seorang guru terkhusus untuk guru PAI. Sehingga, guru PAI dapat memilah bagaimana strategi, metode, teknik, taknik yang cocok digunakan dalam materi pembelajaran yang akan diajarkan, sehingga tujuan dari pembelajaran tercapai dalam waktu yang efisien dan efektif. Maka, calon guru terkhusus guru PAI disarankan untuk membaca buku ini, sebagai referensi cara mengajar yang baik dan benar.

BUKU HARIAN PAK MARDIANTO







Meme kocak untuk pak mardianto